Kesempatan Jalan-Jalan Ke Malaysia Gratis, ini link-nya:

http://indonesia.youthsays.com/seachange/go/vvp

Bisnis Kita

Tampilkan postingan dengan label obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2009

Perlukah Anti Biotik

Antibiotik merupakan salah satu obat terpenting yang pernah diciptakan manusia karena antibiotik membantu kita berperang melawan infeksi kuman/bakteri, sehingga menjadi penyelamat jiwa. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, keampuhan antibiotik semakin memudar.

Apa yang telah terjadi?Ternyata penggunaan antibiotik yang membabi buta menyebabkan obat ini kehilangan pamornya sebagai obat “istimewa”. Saat ini di seluruh belahan dunia, sebagian besar kuman penyebab infeksi serius sudah resisten (kebal) terhadap antibiotik. Kuman yang resisten ini disebut sebagai “superbugs.”
Menurut Dr. Purnamawati S Pujiarto, Sp.Ak, MMPed, dokter spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP) yang juga pengasuh milis sehat, penggunaan antibiotik yang tidak rasional bukan hanya “merugikan” pasien terutama pasien anak-anak, tapi juga lingkungan sekitarnya. Lingkungan akan menjadi potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.
Kamis, 30 November 2006 lalu, di Ahmad Bakrie Hall- Klub Rasuna Jakarta, Majalah Ayahbunda mengadakan Jumpa Pakar Ayahbunda yang terakhir di penghujung tahun 2006. Seminar dengan tema “Bijak Menggunakan Antibiotik Pada Balita” ini dimoderatori oleh artis cantik yang baru 50 hari melahirkan putra kedua yaitu Moza Pramita.
Masalah superbugs ini sudah menjadi keprihatinan seluruh dunia seperti yang dinyatakan Ikatan Dokter Amerika, The American Medical Association (AMA) pada tahun 1995. “Seluruh dunia dihadapkan pada semakin maraknya kuman-kuman yang telah menjadi resisten/kebal terhadap semua antibiotik yang ada. Hal ini menimbulkan krisis luar biasa terhadap kesehatan masyarakat.”
Pembicara yang akrab disapa Bunda Wati mengungkapkan banyak kelirumologi yang berkembang di masyarakat seperti: “kuman itu jahat jadi perlu makan antibiotik” atau “untuk demam, batuk pilek, & diare juga perlu makan antibiotik,” dan lain-lain.

“Padahal sakit pada anak merupakan pembelajaran antibodi,” jelas Bunda Wati. Alam sudah membekali tubuh si kecil dengan sistem kekebalan yang dapat membantunya menghalau serangan kuman penyakit.

Disamping itu, bakteri & jamur adalah kawan kita sehari-hari. Bakteri jumlahnya trilyunan dan terdapat di udara, tanah, laut, pepohonan, makanan dan sebagian besar permukaan yang kita sentuh tiap hari. “Manusia tidak menjadi sakit karena tidak semua bakteri berbahaya,” ungkap Bunda Wati.


Mayoritas bakteri tidak jahat, bahkan menguntungkan. Kita dan tubuh kita justru membutuhkan bakteri karena membantu kesehatan kita. Saluran pencernaan kita “penuh” dengan bakteri (kurang lebih 500 jenis bakteri) yang berperan penting dalam sistem pencernaan kita.


Bakteri di usus berfungsi memperbaiki sel dinding usus yang sudah tua dan rusak, mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan tubuh, memproduksi vitamin B & K, merangsang gerakan peristaltis usus sehingga tidak mudah mengalami konstipasi, serta menghambat berkembangbiaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung mencegah tubuh kita tidak terinfeksi bakteri jahat.


Secara garis besar bakteri dapat digolongkan sebagai bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif umumnya menyebabkan infeksi di bagian atas diafragma dan lebih mudah dilawan dibandingkan bakteri gram negatif yang menyebabkan infeksi di bawah diafragma.

Kapan Butuh Antibiotik?

Antibiotik pun digolongkan menjadi dua, yaitu narrow spectrum (spektrum sempit) dan broad spectrum (spektrum luas). Narrow spectrum untuk membunuh bakteri yang sudah diketahui, sedangkan broad spectrum adalah antibiotik yang lebih kuat dan diperuntukan bakteri yang belum diketahui.

“Konsumen harus mengetahui kapan butuh antibiotik dan kapan jangan mengonsumsi antibiotik,“ sambung Bunda Wati. Antibiotik tidak bekerja pada colds & flu, sebagian besar batuk atau bronchitis, sebagian besar radang tenggorokan (sore throat), sebagian besar infeksi telinga dan sinusitas.

Jangan Gunakan Antibiotik

Menurut penelitian, ada empat kondisi yang umumnya diterapi antibiotik padahal tidak perlu, yaitu demam, radang tenggorokan, diare dan batuk.Umumnya demam tidak berbahaya. Demam merupakan salah satu usaha tubuh dan sistem imun untuk memerangi infeksi. Tingginya demam tidak identik dengan beratnya penyakit. Demam bukan penyakit, melainkan gejala dan semacam alarm. Kebanyakan demam pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi virus.

Radang tenggorokan belum tentu infeksi. Radang atau inflamasi adalah merah, membengkak dan nyeri. Radang tenggorokan pada bayi dan anak umumnya disebabkan oleh virus sehingga tidak memerlukan antibiotik, sedangkan radang yang disebabkan kuman streptokokus membutuhkan antibiotik. Radang akibat infeksi kuman ini menyerang anak di atas usia 4 tahun.

Diare dengan atau tanpa muntah, umumnya akan sembuh sendiri dalam beberapa hari. Berikan cairan sesering mungkin agar anak tidak dehidrasi adalah hal yang penting. Perlu diketahui bahwa diare merupakan upaya tubuh untuk “membuang” segala sesuatu yang tidak berkenan di saluran cerna anak. Diare pada anak & bayi pun umumnya disebabkan infeksi virus.

Bunda Wati menjelaskan, “Batuk itu bukan penyakit.” Batuk merupakan refleks untuk membersihkan saluran napas. Kebanyakan batuk diebabkan oleh infeksi virus. Seperti penyakit yang sudah disebutkan sebelumnya, jangan meminta obat untuk menghentikan penyakit tapi pikirkan penyebabnya.

Infeksi yang disebabkan oleh virus hanya bisa diatasi dengan kekebalan tubuh. Antibiotik tidak berguna karena tidak dapat membunuh virus. Justru antibiotik dapat membunuh bakteri baik dalam tubuh kita.

Penggunaan Antibiotik yang Rasional Berikut ini aturan pemakaian antibiotik yang lebih rasional: Seandainya anak kita membutuhkan antibiotik, pilihlah antibiotik yang hanya bekerja terhadap bakteri yang dituju. Dalam hal ini, antibiotik yang narrow spectrum.

Untuk infeksi bakteri yang “ringan” (infeksi saluran napas atas/infeksi telinga dan infeksi sinus) yang memang perlu antibiotik, maka pilihlah yang bekerja terhadap bakteri Gram positif.


Untuk infeksi kuman yang berat, seperti infeksi di bawah daerah diafragma (infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, pneumonia, meningitis bakteri), pilihlah antibiotik yang juga membunuh kuman Gram negatif.

Hindari pemakaian lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.

Hindari pemakaian salep antibiotik kecuali untuk infeksi mata.

Tanyakan penyebabnya

Dengan demikian, bila anak kita sakit, tanyakanlah penyebab semua gejala yang dialami oleh anak. Ingatlah bahwa demam, batuk, pilek, diare, muntah, radang tenggorokan merupakan gejala, bukan penyakit. Tanyakan, apakah penyebabnya infeksi atau bukan. Kalau infeksi, apakah disebabkan oleh virus atau kuman. Kemudian tanyakan apa yang harus dilakukan dan mengapa hal itu dilakukan.


Penggunaan antibiotik yang berlebihan akan merugikan, bahkan bisa membahayakan. Pasien dirugikan karena: Semakin sering mengonsumsi antibiotik, semakin sering kita jatuh sakit. Antibiotik merupakan karunia Tuhan yang tidak ternilai. Mari kita jaga dan lindungi karunia ini dengan cara penggunaan yang bijak dan rasional, agar dunia tidak “kehabisan” antibiotik. Jangan biarkan anak cucu kita menderita akibat ulah kita yang tidak bijak.

Sakit semakin parah, semakin lama, angka kematian meningkat. Pemborosan, baik pasien, unit layanan kesehatan, dan negara. Penggunaan antibiotik yang berlebihan merugikan 3P, yaitu Planet, Patient dan Pocket.

Anti Biotik

Pemberian Antibiotik Pada Anak Picu Efek Samping!


Jakarta - Penggunaan antibiotik irasional pada anak dapat meningkatkan resistensi terhadap bakteri. Penggunaan antibiotik pada bayi dan anak-anak dapat menimbulkan efek samping berupa gangguan pada beberapa organ tubuh, karena sistem tubuh dan fungsi organ yang tergolong belum tumbuh.

Gangguan organ tubuh yang dapat terjadi adalah gangguan saluran cerna, gangguan ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, gangguan darah, atau akibat lainnya berupa reaksi alergi karena obat.

Reaksi alergi karena obat biasanya menimbulkan gangguan ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir atau kelopak mata, sesak, hingga dapat mengancam jiwa atau reaksi anafilaksis.

Berdasarkan rekomendasi dan kampanye penyuluhan yang telah dilakukan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) bekerjasama dengan American Academy of Pediatrics (AAP), penggunaan antibiotik di Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan drastis. Prevalensi anak usia 0?4 tahun yang mendapatkan antibiotik menurun dari 47,9% pada tahun 1996 menjadi 38,1% tahun 2000.

Jumlah rata-rata antibiotik yang masuk dalam daftar resep obat menurun dari 47.9 jumlah resep per anak pada tahun 1996 menjadi 0.78 pemberian resep per anak tahun 2000. Biaya yang dikeluarkan pun menurun menjadi US$ 21,04 per anak pada 2000, setelah sebelumnya tahun 1996 mencapai US$ 31,45. Dr Latre Buntaran SpMK, dokter spesialis mikrobiologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelaskan, indikasi yang tepat dan benar dalam penggunaan antibiotik pada anak adalah apabila infeksi disebabkan oleh bakteri.

Sementara itu, hampir sebagian besar kasus penyakit infeksi pada anak, seperti diare, batuk, pilek, atau panas disebabkan oleh virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus itu sendiri tergolong self limiting disease, atau penyakit yang akan pulih sendiri hanya dalam waktu 5 sampai 7 hari.

?Oleh karena itu, sangat dimungkinkan hanya sekitar 10 hingga 15% anak yang terinfeksi virus yang mendapatkan pengobatan antibiotic,? paparnya di Jakarta, kemarin.

Biasanya, setiap anak akan mengalami 2 hingga 9 kali infeksi saluran napas yang diakibatkan oleh virus.

Sebuah penelitian terhadap gejala pada 139 anak penderita flu-pilek karena virus, ditemukan bahwa pemberian antibiotik tidak memperbaiki cairan mucopurulent dari hidung.

Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari infeksi pernapasan atas yang disebabkan oleh virus. Perubahan warna dahak dan ingus menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis infeksi saluran napas atas karena virus, bukan merupakan indikasi antibiotik.

?Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri,? tuturnya.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pemberian antibiotik dilakukan jika batuk dan pilek berkelanjutan selama lebih 10-14 hari dan terjadi sepanjang hari.

Untuk batuk malam dan pagi hari, biasanya hanya berkaitan dengan alergi sehingga tidak perlu antibiotik. Kasus lainnya yang mengindikasikan pemberian antibiotik, adalah jika terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas dengan temperatur suhu di atas 39 derajat Celcius dengan cairan hidung purulen, nyeri, pembengkakan sekitar mata dan wajah. (izn)

Selasa, 06 Oktober 2009

Bijak Dalam Memilih Obat Tradisional

Sebagian besar dari kita akrab dengan obat tradisional. Bahkan, banyak yang mengandalkan obat semacam ini untuk menjaga kesehatan atau mengobati penyakit. Sebetulnya, bagaimana cara memilih obat tradisional yang aman?

Minggu lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan sedikitnya 93 jenis obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat keras di sejumlah pasar tradisional.

Obat-obat itu biasanya dijual di gerai-gerai jamu atau dijajakan oleh tukang jamu gendong (dengan sebutan jamu setelan). Kabar tersebut tentu saja menambah kekhawatiran bagi pecinta obat-obat tradisional, karena bahan kimia obat keras jika dikonsumsi akan membahayakan kesehatan.

"Mengonsumsi obat tradisional berbahan kimia obat keras bukan saja membahayakan kesehatan, tapi juga bisa mematikan. Pemakaian obat keras harus melalui pengawasan dan resep dokter," tandas Kepala BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib, Selasa (5/12). Berbagai bahan kimia obat keras yang ditemukan BPOM itu antara lain fenilbutason, metampiron, CTM, piroksikam, deksametason, allupurinol, sildenafil sitrat, sibutramin hidroklorida, dan parasetamol.

Misalnya, metampiron dapat menyebabkan gangguan saluran cerna, perdarahan lambung dan gangguan syaraf. "Fenilbutason dapat menyebabkan rasa mual, ruam kulit, retensi cairan, dan gagal ginjal. Deksametason dapat menyebabkan trombositopenia, anemia plastis dan gangguan fungsi ginjal, sedangkan Sibutramin Hidroklorida dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung."

REAKSI LAMBAT

Menurut Dr. Dyah Iswantini, MAgr. dari Pusat Studi Biofarmaka IPB, prinsip kerja jamu salah satunya adalah proses (reaksinya) yang lambat, tidak seperti obat dari bahan kimia yang bisa langsung bereaksi. "Ini karena jamu bukan senyawa aktif. Kalau senyawa aktif (parasetamol, misalnya), butuh proses yang panjang."

Jamu biasanya berasal dari simplisia (tanaman obat kering), yaitu daun/umbi yang diiris, dikeringkan, dan dihancurkan. "Jamu diambil dari daun tanaman obat. Kalau mau diambil senyawanya, harus diekstrak, dipisahkan dulu, dimurnikan, difraknisasi, baru dapat senyawanya," papar Dyah. Tentu saja proses tersebut butuh jumlah bahan baku yang sangat banyak. Misalnya, dari satu ton daun sambiloto yang diekstrak, baru bisa didapat bahan aktifnya.

Itulah sebabnya, jika efek sembuh langsung muncul begitu jamu diminum, konsumen layak curiga, karena pasti ada sesuatu. "Itu yang terjadi pada jamu-jamu yang diberi obat-obat kimia tadi. Tanpa penelitian, hanya dimasukkan begitu saja. Kalau gatal-gatal, diberi CTM. Pusing-pusing, diberi antalgin atau parasetamol. Untuk asam urat, diberi allupurinol. Ya, jelas manjur. Tapi, menjadi berbahaya karena dosisnya tidak diketahui dan tanpa pengawasan dokter. Jamunya hanya sebagai penampakan, padahal isinya bahan kimia."

Peneliti yang juga dosen di Departemen Kimia IPB ini melanjutkan, "Bahaya sekali kalau ada bahan kimia, tanpa tahu dosisnya. Padahal, yang namanya obat (kimia), dosis sangat menentukan. Kalau melebihi dosis bisa berakibat fatal, atau kalau dipakai dalam waktu tertentu, bisa merusak organ vital." Namun, Dyah menekankan, tentu saja tidak semua jamu tidak baik.

Dosis biasanya tertera pada kemasan, kecuali jamu gendong. "Dosis, kan, sebenarnya tidak sembarangan ditentukan. Harus sampai penelitian preklinis (uji coba ke hewan)," jelas Dyah. Dosis di sini dalam arti berkhasiat. Tapi, dosis juga dalam arti jangan sampai melebih toksisitasnya. Misalnya dosisnya satu sachet sehari. Berarti kalau lebih dari satu sachet, sudah melampaui batas yang ditentukan.

PASCA PANEN

Aman dikonsumsi memang menjadi syarat utama jamu, seperti yang ditentukan oleh BPOM. Untuk menguji keamanan, biasanya dilihat kandungannya. Misalnya dengan melihat tingkat toksisitasnya. Contohnya buah mahkota dewa. "Dosisnya harus sekian, tidak boleh melebihi sekian, karena toksik."

Selain soal toksisitas, yang juga memengaruhi keamanan jamu adalah faktor penanganan pascapanen. "Bagaimana cara mencuci, mengeringkan, dan menyimpan sampai menjadi jamu atau produk tertentu (misalnya kapsul atau minuman instan) sangat berpengaruh. Kalau tidak benar, maka mikroba dan aflatoksin jamur, justru bisa berakumulasi di dalam tubuh dan bisa berbahaya," lanjut Dyah.

Penanganan pascapanen harus berdasarkan standar yang benar. "Cara membersihkan, mengiris, mengeringkan pun ada standarnya (Standar Nasional Indonesia). Temulawak dan jahe, misalnya, sudah ada SNI-nya. Jadi, bagaimana penanganan pascapanen dan budidaya sudah ada standarnya."

Lebih lanjut Dyah mencontohkan mengenai ketebalan irisan. "Tak bisa sembarangan. Tergantung apa yang diinginkan. Misalnya, kalau yang diinginkan minyak atsirinya, berarti irisan harus lebih tebal, dan sebagainya." Begitu pula dengan cara mengeringkan dan menyimpan, juga tak boleh dianggap remeh. "Kalau sudah lembap, bukannya mengobati atau mencegah, tapi mikroba yang masuk ke tubuh malah akan bertambah. Kalau yang masuk mikroba yang patogen, bisa merusak," kata Dyah melanjutkan.

Yang jelas, Dyah menyarankan untuk tidak meninggalkan jamu. "Tidak semua industri jamu seperti itu, kok. Banyak produk jamu yang bagus. Konsumen harus jeli memilih, mana jamu yang aman dan mana yang tidak. Lagipula, negara kita ini sangat kaya dengan tanaman obat. Jadi, kitalah yang harus memberdayakan."

LAYAK KONSUMSI

Selain soal khasiat, yang juga harus diperhatikan sebelum mengonsumsi jamu adalah sisi keamanan. "Memang sulit untuk mengetahui apakah ada kandungan bahan kimia di dalam produk jamu. Harus melewati penelitian," jelas Dyah. Tapi, untuk melihat apakah jamu masih bagus (layak konsumsi) atau tidak, bisa dilakukan. Salah satunya dengan melihat tanggal kadaluwarsa. "Juga dari penampakkan serbuk jamunya sendiri. Serbuk yang bagus biasanya kering, tidak lembap."

Dyah juga menyarankan untuk memilih jamu yang sudah teregistrasi. "Ini paling tidak akan mengurangi kemungkinan meminum jamu yang tidak jelas kandungannya. Akan lebih baik kalau minum jamu yang diproduksi berdasarkan hasil penelitian dan proses pembuatannya benar (experiment-based dan knowledge-based).

Minum jamu sebaiknya juga jangan sampai menjadi suatu ketergantungan. "Meskipun sifatnya lebih untuk pencegahan, sebaiknya jangan setiap hari. Diberi selang waktu, misalnya minum dua hari sekali." Yang tak kalah penting adalah konsumsi gizi yang baik, olahraga dan istirahat teratur. "Itu juga membantu mencegah penyakit."

LANGSING DENGAN JAMU

Dari 93 jenis obat tradisional yang ditarik, beberapa di antaranya adalah adalah jenis pelangsing. Menurut Dyah, "Ada, kok, tanaman yang memang bisa membuat langsing, misalnya daun jati belanda atau bangle. Bangle sudah diteliti sampai ke oksisitasnya, sementara daun jati belanda malah sudah diteliti sampai ke tahap preklinik (uji coba ke hewan)."

Cuma, lanjut Dyah, "Orang, kan, ingin langsing cepat, kalau bisa sih turun drastis. Nah, sampai sekarang memang belum ditemukan jamu yang bisa melangsingkan tubuh secara drastis." Yang harus diingat, proses yang cepat tidak menjamin hasil yang selalu bagus. "Kalau berat badan turun drastis, konsekuensinya terjadi pembakaran yang luar biasa, metabolisme terganggu, dan efeknya bisa kemana-mana," jelasnya. "Dengan minuman instan bangle, misalnya, paling tidak berat badan tidak nambah, turun juga sedikit-sedikit."

INI DIA!

Merek produk obat tradisional yang mengandung BKO antara lain: Xing Shi Jiu, G-Bucks Kapsul, Asam Urat dan Flu Tulang Kapsul serta Serbuk, Neo Tasama Kapsul, Pegal Linu Encok Rematik, Langsing Alami Kapsul, Amargo Jaya Ramuan Madura, Cikung Makassar Super, Obat Pegel Linu Ngilu Tulang, Sembur Angin, Daun Dewa, Flu Tulang LabaLaba, Obat Kuat Viagra, Extra Fit, Pegel Linu Cap Widoro Putih, Prono Jiwo dan Antanan Kapsul.
(Sumber: BPOM)